Welcome to my blog, hope you enjoy reading
RSS

Pages

Selasa, 23 Maret 2021

Pendidikan sebagai Ilmu dan Praksis

 

Pendidikan sebagai Ilmu dan Praksis

Pendidikan sebagai Ilmu

Istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani, Pedagogy, yang mengandung makna seorang anak yang pergi dan pulang sekolah diantar seorang pelayan. Sedangkan pelayan yang mengantar dan menjemput dinamakan paedagogos. dalam bahasa Romawi, pendidikan diistilahkan dengan educate yang berarti mengeluarkan sesuatu yang berada di dalam. Dalam bahasa Inggris, pendidikan diistilahkan to educate yang berarti memperbaiki moral dan melatih intelektual (Noeng Muhadjir dalam Wiji, 2008:19)

Pendidikan adalah: pertama, keseluruhan proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya yang bernilai positif dalam masyarakat di tempat hidupnya; kedua, proses sosial di mana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khusus yang datang dari sekolah), sehingga orang tersebut bisa mendapat atau mengalami perkembangan kemampuan sosial maupun kemampuan individual secara optimal. (Carter V. Good dalam Wiji, 2008:20-21)

Ilmu Pendidikan sebagai Disiplin Ilmu

Ilmu pendidikan adalah suatu bangunan pengetahuan sistematis yang mencakup aspek-aspek kuantitastif dan objektif dari proses belajar, dan juga menggunakan isntrumen secara saksama dalam mengajukan hipotesis-hipotesis pendidikan untuk diuji berdasarkan pengalaman yang sering kali dalam bentuk eksperimen.  (Carter V. Good dalam Wiji, 2008:24)

Ilmu pendidikan adalah ilmu yang membicarakan masalah-masalah umum pendidikan secara menyeluruh dan abstrak. Pendidikan memiliki corak teoritis dan praktis. Bercorak teoritis artinya bersifat normative atau menunjukkan standar nilai tertentu. Sedangkan bercorak praktis maksudnya bagaimana pendidikan harus dilaksanakan. (Imam Barnadib dalam Wiji, 2008:24-25)

1.    Ilmu Pendidikan sebagai Ilmu Normatif.

       Ilmu pendidikan tidak terlepas dari eksistensi manusia, yang senantiasa berkaitan dengan nilai-nilai yang bersumber dari norma masyarakat, norma filsafat dan pandangan hidup, dan juga norma agama. Dalam pemikiran pendidikannya,

       John Locke sangat mementingkan pendidikan atas dasar teori tabularsa, yaitu manusia yang bisa dibentuk dengan proses pendidikan, karena manusia seperti kertas putih yang bisa diberi warna apa saja sesuai keinginan yang memberi warna. Dari sini, dapat dipahami bahwa nilainilai tertentu yang dapat dijadikan norma adalah pengetahuan yang kemudian menjadi dasar bagi pelaksanaan pendidikan.

      John Dewey dengan aliran pragmatismenya menyatakan bahwa kebenaran itu terletak pada kenyataan praktis. Artinya, apa yang berguna untuk diri itu benar dan sesuai dengan praktik, itulah sebenarnya kebenaran. Pandangan ini sangat berpengaruh dalam psikologi dan menghasilkan metode-metode mendidik dengan cara drill dan latihan yang pada akhirnya menghasilkan manusia mesin dengan pendekatan respons terhadap stimulus.

2.    Ilmu Pendidikan sebagai Ilmu Teoretis dan Praktis

Dalam epistemology, suatu kawasan studi dapat dikategorikan disiplin ilmu jika memenuhi syarat berikut.

a.       Memiliki objek material dan objek formal

Objek material ilmu pendidikan berupa perilaku manusia. Apabila objek material suatu ilmu memiliki kesamaan dengan objek material ilmu lain, untuk membedakannya diperlukan objek formal dari ilmu tersebut, yang menjadi sudut pandang tertentu yang menentukan macam suatu ilmu. Objek formal ilmu pendidikan adalah berupa penelaahan fenomena pendidikan dalam perspektif yang luas dan integratif. Upaya pendidikan mencakup keseluruhan aktivitas pendidikan, yaitu mendidik dan dididik, termasuk pula pemikiran sistematis tentang pendidikan.

b.      Memiliki sistematika

1)      pendidikan sebagai fenomena manusiawi

2)      pendidikan sebagai upaya sadar

3)      pendidikan sebagai gejala manusiawi dan upaya sadar untuk mengantisipasi perkembangan sosial-budaya masa depan

c.       Memiliki metode

Menurut Soedomo, metode tersebut adalah sebagai berikut.

1)      Metode Normative

2)      Metode Eksplanatori

3)      Metode Teknologis

4)      Metode Deskriptif-Fenomenologis

5)      Metode Hermeneutis

6)      Metode Analisis Kritis

 

Pendidikan sebagai Praksis

 

Penyelenggaraan pendidikan dilakukan oleh dan untuk dirinya sendiri, dengan sasaran mengembangkan pengetahuan serta menyusun teori-teori keilmuan dan system teknologi. Sasaran pendidikan ini berfungsi sebagai alat, sarana, dan jalan untuk membuat perubahan menuju perkembangan hidup. pada titik inilah manusia mewujudkan dirinya sebagai makhluk pendidikan.

Tersirat dalam kodratnya sebagai makhluk pendidikan, atas potensi kodrat cipta, rasa, dan karsanya, manusia berkemampuan untuk dididik dan mendidik. Kemampuan dididik berarti tiga potensi kejiwaannya itu sejak kecil bisa menerima perawatan, pertolongan, dan pembimbingan dari orang lain. Sedangkan kemampuan mendidik berarti pada tingkat kesadaran dan keadaan tertentu, manusia bisa melakukan perawatan, pertolongan, dan pembimbingan kepada orang lain. Dengan kemampuan pendidikan inilah manusia terus membuat perubahan untuk mengembangkan hidup dan kehidupan dirinya sebagai manusia. (Suhartono, 2009:78-79)

Redja M (Depdikbud:IKIP Bandung, 1991), praktik pendidikan adalah seperangkat kegiatan bersama yang bertujuan membantu pihak lain agar mengalami perubahan tingkah laku yang diharapkan. Praktik pendidikan dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu aspek tujuan, aspek proses kegiatan, dan aspek dorongan (motivasi). Tujuan praktik pendidikan adalah membantu pihak lain mengalami perubahan tingkah laku fundamental yang diharapkan. proses kegiatan merupakan seperangkat kegiatan sosial/bersama, usaha menciptakan peristiwa pendidikan dan mengarahkannya, serta merupakan usaha secara sadar atau tidak sadar melaksanakan prinsip-prinsip pendidikan. Dorongan atau motivasi untuk melaksanakan praktik pendidikan muncul karena dirasakan adanya kewajiban untuk menolong orang lain.

Sumber:

Sumber: Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, M.Sc.Ed. 2002. Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia. PT Remaja Rosdakarya. Bandung

Suwarno, Wiji. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Ar-ruz Media. Jogjakarta

Suparlan Suhartono, M. Ed., Ph. D. 2009. Filsafat Pendidikan. Ar-Ruz Media. Jogjakarta.

Drs. Uyoh Sadulloh, M.Pd. 2009. Pengantar Filsafat Pendidikan. CV. Alfabeta. Bandung

Evaluasi Pendidikan

 

A.      Pengertian Evaluasi Pendidikan

Bloom et.al (1971) menyatakan bahwa evaluasi, sebagaimana kita lihat, adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa. Sedangkan Cronbach (1982), mengemukakan bahwa evaluasi merupakan suatu proses terus menerus sehingga di dalam proses kegiatannya dimungkinkan untuk merevisi apabila dirasakan adanya suatu kesalahan.[1]

Selain evaluasi, dikenal juga istilah pengukuran dan penilaian.

1.    Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif.

2.    Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif.

3.    Mengadakan evaluasi meliputi kedua langkah di atas yakni mengukur dan menilai. [2]

 

Evaluasi hendaknya merupakan deskripsi yang jelas atau menunjukkan hubungan sebab-sebab akibat tetapi tidak memberikan penilaian. Untuk memperkara deskripsi, evaluator dapat mengajukan asumsi-asumsi yang didukung oleh data.

 

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah pengukuran dan penilaian data perubahan dalam diri siswa, yang dilaksanakan secara terus menerus, dan dilakukan revisi apabila terdapat suatu kesalahan.

B.       Tujuan Evaluasi Pendidikan

Tujuan utama melakukan evaluasi dalam proses belajar-mengajar adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa sehingga dapat diupayakan tingkat lanjutnya. Tindak lanjut tersebut merupakan fungsi evaluasi dan dapat berupa:

1.                         penempatan pada tempat yang tepat,

2.                         pemberian umpan balik,

3.                         diagnosis kesulitan belajar siswa, atau

4.                         penentuan kelulusan.

Untuk masing-masing tindak lanjut yang dikehendaki ini diadakan tes, berikut.

1.                         Tes penempatan

Tes ini disajikan pada awal tahun pelajaran untuk mengukur kesiapan siswa dan mengetahui tingkat pengetahuan yang telah dicapai sehubungan dengan pelajaran untuk mengukur kesiapan siswa dan mengetahui tingkat pengetahuan yang telah dicapai sehubungan dengan pelajaran yang akan disajikan. Dengan demikian, siswa dapat ditempatkan pada kelompok yang sesuai dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki.

2.                         Tes formatif

Tes jenis ini disajikan di tengah program pengajaran untuk memantau (memonitor) kemajuan belajar siswa demi memberikan umpan balik, baik kepada siswa maupun kepada guru. Berdasarkan hasil tes guru dan siswa dapat mengetahui apa yang masih perlu untuk dijelaskan kembali agar materi pelajaran dapat dikuasai lebih baik.

3.                         Tes diagnostik

Tes ini bertujuan mendiagnosis kesulitan belajar siswa untuk mengupayakan perbaikannya. Karena tujuannya untuk mendiagnosis kesulitan belajar siswa, maka harus terlebih dahulu diketahui bagian mana dari pengajaran yang memberikan kesulitan belajar pada siswa.

4.                         Tes sumatif

Tes ini biasanya diberikan pada akhir tahun ajaran atau akhir suatu jenjang pendidikan, meskipun maknanya telah diperluas untuk dipakai pada tes akhir caturwulan atau semester, dan bahkan pada tes akhir pokok bahasan. Karena tes ini umumnya merupakan tes akhir tahun atau tes akhir jenjang pendidikan, maka ruang lingkupnya pun sangat luas, meliputi seluruh bahan yang telah disajikan sepanjang tahun atau sepanjang jenjang pendidikan. Tingkat kesukaran soalnya pun bervariasi.  [3]

 

C.      Fungsi Evaluasi Pendidikan

 

1.      Evaluasi berfungsi selektif.

a.    Memilih siswa yang dapat diterima di sekolah tertentu.

b.    Memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya.

c.    Memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa.

d.   Memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah dan sebagainya.

2.      Evaluasi bersifat diagnostik.

Apabila alat yang digunakan dalam evaluasi cukup memenuhi persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan siswa.

3.      Evaluasi berfungsi sebagai penempatan.

Evaluasi dapat menentukan dengan pasti di kelompok mana seorang siswa harus ditempatkan. Sekelompok siswa yang mempunyai hasil evaluasi yang sama, akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar.

4.      Evaluasi berfungsi sebagai pengukuran keberhasilan.

Evaluasi dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan. Keberhasilan program ditentukan oleh beberapa faktor yaitu faktor guru, metode mengajar, kurikulum, sarana dan sistem kurikulum.[4]

 

Konsep pendidikan akan sulit diwujudkan apabila alat ukur keberhasilan belajar dan sistem evaluasi belajar tidak mampu menyentuh semua kompetensi peserta didik secara utuh dan menyeluruh. Sistem evaluasi belajar harus mampu mengukur terlaksananya Standar Nasional Pendidikan (SNP) dan tujuan pendidikan nasional. Apabila sistem evaluasinya tidak menggambarkan SNP dan butir-butir konsep sebagaimana tertuang dalam tujuan pendidikan nasional, dikhawatirkan sistem evaluasi tersebut dapat merusak kebijakan, program, dan tatanan pendidikan yang telah didesain secara baik. Selain itu, sistem evaluasi belajar yang dilaksanakan harus mampu menjawab butir-butir konsep pendidikan nasional, khususnya yang berhubungan dengan upaya menciptakan berkembangnya watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[5]

 

Sumber:

1.    Arikunto, Suharsimi. 1955. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara

2.    Daryanto, H. 2008. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta

3.    Mulyasana, Dedi. 2012. Pendidikan Bermutu dan Berdaya Saing. Jakarta: Remaja Rosdakarya



[1] Daryanto, H. Evaluasi Pendidikan, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2008, hal. 1-3.

[2] Daryanto, H. Evaluasi Pendidikan, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2008, hal. 6.

[3] Daryanto, H. Evaluasi Pendidikan, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2008, hal. 12-14.

[4] Arikunto, Suharsimi. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta, 1995, hal. 11.

[5] Mulyasana, Dedi. Pendidikan Bermutu dan Berdaya Saing, Remaja Rosdakarya, Jakarta, 2012, hal.80.

Perspektif Manajemen Pendidikan

 

A.      Pengertian Manajemen Pendidikan

Pertama, manajemen pendidikan mempunyai pengertian kerja sama untuk mencapai tujuan pendidikan. Seperti kita ketahui tujuan pendidikan itu merentang dari tujuan yang sederhana sampai dengan tujuan yang kompleks, tergantung lingkup dan tingkat pengertian pendidikan mana yang dimaksud. Kedua, manajemen pendidikan mengandung pengertian proses untuk mencapai tujuan pendidikan. Proses itu dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pemantauan, dan penilaian. Ketiga, manajemen pendidikan dapat dilihat dengan kerangka berpikir sistem. Sistem adalah keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian dan bagian-bagian itu beriteraksi dalam suatu proses untuk mengubah masukan menjadi keluaran. Keempat, manajemen pendidikan juga dapat dilihat dari segi efektivitas pemanfaatan sumber. [1]

Manajemen pendidikan adalah suatu kegiatan yang mengimplikasikan adanya perencanaan atau rencana pendidikan serta kegiatan implementasinya. Istilah manajemen disebut juga “pengelolaan”.[2]

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa manajemen pendidikan adalah suatu bentuk kerja sama yang sistematis, yang mana didalamnya terdapat proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pemantauan, dan penilaian, dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

B.       Manajemen Pendidikan dari Sudut Proses Pencapaian Tujuan Pendidikan

1.    Perencanaan

Perencanaan adalah pemilihan dari sejumlah alternatif tentang penetapan prosedur pencapaian, serta perkiraan sumber yang dapat disediakan untuk mencapai tujuan tersebut. Sumber meliputi sumber manusia, material, uang, dan waktu. Dalam perencanaan, dikenal beberapa tahap yaitu identifikasi masalah, perumusan masalah, penetapan tujuan, identifikasi alternatif, pemilihan alternatif, dan elaborasi alternatif.

2.    Pengorganisasian

Pengorganisasian di sekolah dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses untuk memilih dan memilah orang-orang (guru dan personel sekolah lainnya) serta mengalokasikan prasarana dan sarana untuk menunjang tugas orang-orang itu dalam rangka mencapai tujuan sekolah. Pengorganisasian juga mencakup penetapan tugas, tanggung jawab, dan wewenang orang-orang serta mekanisme kerjanya sehingga dapat menjamin tercapainya tujuan sekolah.

3.    Pengarahan

Pengarahan diartikan sebagai suatu usaha untuk menjaga agar apa yang telah direncanakan dapat berjalan seperti yang dikehendaki. Kegiatan pengarahan dilakukan dengan cara: (a) melaksanakan orientasi tentang pekerjaan yang akan dilakukan individu atau kelompok, (b) memberikan petunjuk umum dan petunjuk khusus baik secara lisan maupun tertulis, secara langsung maupun tidak langsung.

4.    Pengkoordinasian

Usaha pengkoordinasian dapat dilakukan melalui berbagai cara seperti: (a) melaksanakan penjelasan singkat, (b) mengadakan rapat kerja, (c) memberikan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis, dan (d) memberikan balikan tentang hasil suatu kegiatan.

5.    Pembiayaan

Pembiayaan sekolah adalah kegiatan mendapatkan biaya serta mengelola anggaran pendapatan dan belanja pendidikan menengah. Kegiatan ini dimulai dari perencanaan biaya, usaha untuk mendapatkan dana yang mendukung rencana itu, penggunaan, serta pengawasan penggunaan anggaran tersebut.

6.    Penilaian

Penilaian dapat dilakukan dengan mengadakan penelitian atau pengamatan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam lembaga pendidikan.[3]

 

C.      Manajemen Pendidikan Berdasarkan Sasaran

 

Manajemen berdasarkan sasaran adalah aktivitas memadukan sumber-sumber pendidikan menjadi satu kesatuan, berdasarkan pada sasaran yang ingin dicapai yaitu tujuan pendidikan.

Manajemen berdasarkan sasaran adalah suatu proses atau aktivitas yang berulang secara berkelanjutan. Mulai dari perencanaan, diteruskan dengan review dan perencanaan, kemudian direview lagi ditambah dengan perencanaan, begitu seterusnya sampai tujuan aktivitas itu tercapai. Humble (1977, h.3-4) mengemukakan komponen yang diperiksa dalam proses terus menerus tersebut, yaitu sebagai berikut.

1.         Strategis atau taktis.

2.         Hasil kerja dan merencanakan standar hasil dan target pekerjaan yang harus dicapai.

3.         Mengadakan persetujuan tentang rencana peningkatan kerja.

4.         Menciptakan kondisi yang memungkinkan peningkatan kerja yang mencakup perbaikan struktur organisasi dan informasi pengawasan.

5.         Melakukan pemeriksaan hasil dan kemampuan secara individual.

6.         Melakukan pembinaan perencanaan dan pelatihan manajer.

7.         Memperkuat motivasi.[5]

Sumber:

1.    M, Tilaar. 2011. Manajemen Pendidikan Nasional (Kajian Pendidikan Masa Depan). Jakarta: Remaja Rosdakarya.

2.    Pidarta, Made. 2004. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.

3.    Suryosubroto, B. 2004. Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta: PT Rineka Cipta.

 



[1] Suryosubroto, B. Manajemen Pendidikan di Sekolah, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2004, hal 15.

[2] M, Tilaar. Manajemen Pendidikan Nasional, Remaja Rosdakarya, Jakarta, 2011, hal.4.

[3] Suryosubroto, B. Manajemen Pendidikan di Sekolah, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2004, hal. 22-26.

[4] Pidarta, Made. Manajemen Pendidikan Indonesia, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2004, hal 32.

[5] Pidarta, Made. Manajemen Pendidikan Indonesia, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2004, hal 42-44.

Pranata Pendidikan

 

Pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia secara manusiawi yang harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta perkembangan zaman.[1] Sedangkan masyarakat adalah tempat orang-orang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan (Selo Soemardjan dan Soelaiman)[2]. Masyarakat berfungsi sebagai penerus budaya dari generasi ke generasi  selanjutnya secara dinamis sesuai situasi dan kondisi serta kebutuhan masyarakat, melalui pendidikan dan interaksi sosial. Dengan demikian pendidikan dapat diartikan sebagai sosialisasi.

A.      Pendidikan Masyarakat Tradisional

Pendidikan tradisional (konsep lama) sangat menekankan pentingnya penguasaan bahan pelajaran. Pendidikan tradisional telah menjadi sistem yang dominan di tingkat pendidikan dasar dan menengah sejak paruh kedua abak ke-19, dan mewakili puncak pencarian elektik atas satu sistem terbaik.

Dalam kebudayaan masyarakat sederhana agen pendidikan yang formal termasuk di dalamnya kelauarga dan kerabat. Sedangkan sekolah muncul relative terlambat dalam lingkungan masyarakat sederhana. Adapun beberapa kondisi yang mendorong timbulnya lembaga pendidikan (sekolah) dalam masyarakat sederhana adalah sebagai berikut. [3]

1.         Perkembangan agama dan kebutuhan untuk mendidik para calon ulama, pendeta, dll.

2.         Pertumbuhan dari dalam (lingkungan masyarakat itu sendiri) atau pengaruh dari luar.

3.         Pembagian kerja dalam masyarakat yang menuntut keterampilan dan dan teknik khusus.

4.         Konflik dalam masyarakat yang mengancam nilai-nilai tradisional dan akhirnya menuntut pendidikan untuk menguatkan penerimaan nilai-nilai warisan budaya.

 

Ciri utama pendidikan tradisional termasuk :

1.      anak-anak biasanya dikirim ke sekolah di dalam wilayah geografis distrik tertentu,

2.      mereka kemudian dimasukkan ke kelas-kelas yang biasanya dibeda-bedakan berdasarkan umur,

3.      anak-anak masuk sekolah di tiap tingkat menurut berapa usia mereka pada waktu itu

4.      mereka naik kelas setiap habis satu tahun ajaran,

5.      prinsip sekolah otoritarian, anak-anak diharap menyesuaikan diri dengan tolok ukur perilaku yang ada

6.      guru memikul tanggung jawab pengajaran, berpegang pada kurikulum yang sudah
ditetapkan

7.      sebagian besar pelajaran diarahkan oleh guru dan berorientasi pada teks,

8.      promosi tergantung pada penilaian guru,

9.      kurikulum berpusat pada subjek pendidik,

10.  bahan ajar yang paling umum tertera dalam kurikulum adalah buku-buku teks.

 

Pendidikan Tradisional:

1.      Guru berbicara murid menyimak

2.      One man show dimana guru menjadi satu-satunya pelaku pendidikan

3.      Tatanan bangku berurut

4.      Masih diberlakukan bentuk hukuman fisik bagi siswa yang tidak taat.

 

B.    Pendidikan Masyarakat Modern

Dalam pembicaraan tentang perkiraan masyarakat masa depan secara tersirat telah pula dibicarakan tentang tantangan-tantangan yang akan dihadapi manusia masa depan, seperti kemampuan menyesuaikan diri dan memanfaatkan peluang globalisasi dalam berbagai bidang, wawasan dan pengetahuan yang memadai tentang iptek umpamanya melek teknologi tanpa harus menjadi pakar iptek, kemampuan menyaring dan memanfaatkan arus informasi yang semakin padat dan cepat, dan kemampuan bekerja efisien sebagai cikal bakal kemampuan professional. Keempat tantangan tersebut merupakan gejala konstelasi dunia masa kini dan masa depan, dan oleh karena itu, manusia Indonesia perlu berupaya untuk menyesuaikan diri sehingga menjadi manusia modern.[4]

Berikut merupakan konsep pendidikan modern dengan pendidikan klasik.[5]

 

No

Faktor Pembanding

Pendidikan Modern

Pendidikan Klasik

1

Pendidikan Moral

Penanaman Humanisme dengan cara Anti Kekerasan

Penanaman Humanisme dengan menggunakan Kekerasan dalam taraf wajar.

2

Fungsi Guru

Sebagai Motivator dan Fasilitator.

Pusat segala aktivitas pendidikan baik di lingkungan sekolah maupun luar sekolah.

3

Penerapan Etika

Tergantung pada masing-masing individu peserta didik.

Wajib diterapkan di dalam maupun luar lingkungan sekolah.

4

Punishment and Reward.

berupa himbauan dan apresiasi sesuai dengan kompetensi peserta didik.

Berupa himbauan dan apresiasi sesuai dengan kompetensi peserta didik.

 

 

Sumber:

Ary H Gunawan. 2010. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Imran Manan. 1989. Antropologi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud

S. Nasution. 1995. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Umar Tirtarahardja dan La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

http://zonainfosemua.blogspot.com/2011/02/pendidikan-modern-atau-pendidikan.html

 



[1] Ary H Gunawan, (2010:54)

[2] S. Nasution (1995:60)

[3] Imran Manan (1989 : 57)

[4] Umar dan La Sulo, (2005:146)

[5] http://zonainfosemua.blogspot.com , diakses tanggal 26 November 2013.