Pendidikan sebagai Ilmu dan Praksis
Pendidikan
sebagai Ilmu
Istilah pendidikan berasal dari bahasa
Yunani, Pedagogy, yang mengandung makna seorang anak yang pergi dan pulang
sekolah diantar seorang pelayan. Sedangkan pelayan yang mengantar dan menjemput
dinamakan paedagogos. dalam bahasa Romawi, pendidikan diistilahkan dengan
educate yang berarti mengeluarkan sesuatu yang berada di dalam. Dalam bahasa
Inggris, pendidikan diistilahkan to educate yang berarti memperbaiki moral dan
melatih intelektual (Noeng Muhadjir dalam Wiji, 2008:19)
Pendidikan adalah: pertama, keseluruhan
proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk
tingkah laku lainnya yang bernilai positif dalam masyarakat di tempat hidupnya;
kedua, proses sosial di mana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang
terpilih dan terkontrol (khusus yang datang dari sekolah), sehingga orang
tersebut bisa mendapat atau mengalami perkembangan kemampuan sosial maupun
kemampuan individual secara optimal. (Carter V. Good dalam Wiji, 2008:20-21)
Ilmu Pendidikan sebagai Disiplin Ilmu
Ilmu
pendidikan adalah suatu bangunan pengetahuan sistematis yang mencakup
aspek-aspek kuantitastif dan objektif dari proses belajar, dan juga menggunakan
isntrumen secara saksama dalam mengajukan hipotesis-hipotesis pendidikan untuk
diuji berdasarkan pengalaman yang sering kali dalam bentuk eksperimen. (Carter V. Good dalam Wiji, 2008:24)
Ilmu
pendidikan adalah ilmu yang membicarakan masalah-masalah umum pendidikan secara
menyeluruh dan abstrak. Pendidikan memiliki corak teoritis dan praktis.
Bercorak teoritis artinya bersifat normative atau menunjukkan standar nilai
tertentu. Sedangkan bercorak praktis maksudnya bagaimana pendidikan harus dilaksanakan.
(Imam Barnadib dalam Wiji, 2008:24-25)
1.
Ilmu Pendidikan sebagai Ilmu Normatif.
Ilmu
pendidikan tidak terlepas dari eksistensi manusia, yang senantiasa berkaitan
dengan nilai-nilai yang bersumber dari norma masyarakat, norma filsafat dan
pandangan hidup, dan juga norma agama. Dalam pemikiran pendidikannya,
John
Locke sangat mementingkan pendidikan atas dasar teori tabularsa, yaitu manusia
yang bisa dibentuk dengan proses pendidikan, karena manusia seperti kertas
putih yang bisa diberi warna apa saja sesuai keinginan yang memberi warna. Dari
sini, dapat dipahami bahwa nilainilai tertentu yang dapat dijadikan norma
adalah pengetahuan yang kemudian menjadi dasar bagi pelaksanaan pendidikan.
John
Dewey dengan aliran pragmatismenya menyatakan bahwa kebenaran itu terletak pada
kenyataan praktis. Artinya, apa yang berguna untuk diri itu benar dan sesuai
dengan praktik, itulah sebenarnya kebenaran. Pandangan ini sangat berpengaruh
dalam psikologi dan menghasilkan metode-metode mendidik dengan cara drill dan
latihan yang pada akhirnya menghasilkan manusia mesin dengan pendekatan respons
terhadap stimulus.
2.
Ilmu Pendidikan sebagai Ilmu Teoretis dan Praktis
Dalam epistemology, suatu kawasan studi dapat
dikategorikan disiplin ilmu jika memenuhi syarat berikut.
a.
Memiliki objek material dan objek formal
Objek material ilmu pendidikan berupa
perilaku manusia. Apabila objek material suatu ilmu memiliki kesamaan dengan
objek material ilmu lain, untuk membedakannya diperlukan objek formal dari ilmu
tersebut, yang menjadi sudut pandang tertentu yang menentukan macam suatu ilmu.
Objek formal ilmu pendidikan adalah berupa penelaahan fenomena pendidikan dalam
perspektif yang luas dan integratif. Upaya pendidikan mencakup keseluruhan
aktivitas pendidikan, yaitu mendidik dan dididik, termasuk pula pemikiran
sistematis tentang pendidikan.
b.
Memiliki sistematika
1)
pendidikan sebagai fenomena manusiawi
2)
pendidikan sebagai upaya sadar
3)
pendidikan sebagai gejala manusiawi dan upaya sadar untuk
mengantisipasi perkembangan sosial-budaya masa depan
c.
Memiliki metode
Menurut Soedomo, metode tersebut adalah
sebagai berikut.
1)
Metode Normative
2)
Metode Eksplanatori
3)
Metode Teknologis
4)
Metode Deskriptif-Fenomenologis
5)
Metode Hermeneutis
6)
Metode Analisis Kritis
Pendidikan sebagai Praksis
Penyelenggaraan
pendidikan dilakukan oleh dan untuk dirinya sendiri, dengan sasaran
mengembangkan pengetahuan serta menyusun teori-teori keilmuan dan system
teknologi. Sasaran pendidikan ini berfungsi sebagai alat, sarana, dan jalan
untuk membuat perubahan menuju perkembangan hidup. pada titik inilah manusia
mewujudkan dirinya sebagai makhluk
pendidikan.
Tersirat
dalam kodratnya sebagai makhluk pendidikan, atas potensi kodrat cipta, rasa,
dan karsanya, manusia berkemampuan untuk dididik
dan mendidik. Kemampuan dididik berarti tiga potensi kejiwaannya itu sejak
kecil bisa menerima perawatan, pertolongan, dan pembimbingan dari orang lain.
Sedangkan kemampuan mendidik berarti pada tingkat kesadaran dan keadaan
tertentu, manusia bisa melakukan perawatan, pertolongan, dan pembimbingan
kepada orang lain. Dengan kemampuan pendidikan inilah manusia terus membuat
perubahan untuk mengembangkan hidup dan kehidupan dirinya sebagai manusia.
(Suhartono, 2009:78-79)
Redja M (Depdikbud:IKIP Bandung, 1991),
praktik pendidikan adalah seperangkat kegiatan bersama yang bertujuan membantu
pihak lain agar mengalami perubahan tingkah laku yang diharapkan. Praktik
pendidikan dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu aspek tujuan, aspek proses
kegiatan, dan aspek dorongan (motivasi). Tujuan praktik pendidikan adalah
membantu pihak lain mengalami perubahan tingkah laku fundamental yang
diharapkan. proses kegiatan merupakan seperangkat kegiatan sosial/bersama,
usaha menciptakan peristiwa pendidikan dan mengarahkannya, serta merupakan
usaha secara sadar atau tidak sadar melaksanakan prinsip-prinsip pendidikan. Dorongan
atau motivasi untuk melaksanakan praktik pendidikan muncul karena dirasakan
adanya kewajiban untuk menolong orang lain.
Sumber:
Sumber: Prof.
Dr. H.A.R. Tilaar, M.Sc.Ed. 2002. Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani
Indonesia. PT Remaja Rosdakarya. Bandung
Suwarno, Wiji.
2008. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Ar-ruz Media. Jogjakarta
Suparlan
Suhartono, M. Ed., Ph. D. 2009. Filsafat Pendidikan. Ar-Ruz Media. Jogjakarta.
Drs. Uyoh Sadulloh, M.Pd. 2009. Pengantar Filsafat
Pendidikan. CV. Alfabeta. Bandung


0 komentar:
Posting Komentar