Pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia secara manusiawi yang
harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta perkembangan zaman.[1] Sedangkan
masyarakat
adalah tempat orang-orang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan (Selo
Soemardjan dan Soelaiman)[2].
Masyarakat berfungsi sebagai
penerus budaya dari generasi ke generasi
selanjutnya secara dinamis sesuai situasi dan kondisi serta kebutuhan
masyarakat, melalui pendidikan dan interaksi sosial. Dengan demikian pendidikan
dapat diartikan sebagai sosialisasi.
A.
Pendidikan Masyarakat Tradisional
Pendidikan
tradisional (konsep lama) sangat menekankan pentingnya penguasaan bahan
pelajaran. Pendidikan tradisional telah menjadi sistem yang dominan di tingkat
pendidikan dasar dan menengah sejak paruh kedua abak ke-19, dan mewakili puncak
pencarian elektik atas satu sistem terbaik.
Dalam
kebudayaan masyarakat sederhana agen pendidikan yang formal termasuk di
dalamnya kelauarga dan kerabat. Sedangkan sekolah muncul relative terlambat
dalam lingkungan masyarakat sederhana. Adapun beberapa kondisi yang mendorong
timbulnya lembaga pendidikan (sekolah) dalam masyarakat sederhana adalah
sebagai berikut. [3]
1.
Perkembangan agama dan kebutuhan
untuk mendidik para calon ulama, pendeta, dll.
2.
Pertumbuhan dari dalam (lingkungan
masyarakat itu sendiri) atau pengaruh dari luar.
3.
Pembagian kerja dalam masyarakat
yang menuntut keterampilan dan dan teknik khusus.
4.
Konflik dalam masyarakat yang
mengancam nilai-nilai tradisional dan akhirnya menuntut pendidikan untuk
menguatkan penerimaan nilai-nilai warisan budaya.
Ciri utama pendidikan tradisional
termasuk :
1.
anak-anak biasanya dikirim ke
sekolah di dalam wilayah geografis distrik tertentu,
2.
mereka kemudian dimasukkan ke
kelas-kelas yang biasanya dibeda-bedakan berdasarkan umur,
3.
anak-anak masuk sekolah di tiap
tingkat menurut berapa usia mereka pada waktu itu
4.
mereka naik kelas setiap habis satu
tahun ajaran,
5.
prinsip sekolah otoritarian,
anak-anak diharap menyesuaikan diri dengan tolok ukur perilaku yang ada
6.
guru memikul tanggung jawab pengajaran,
berpegang pada kurikulum yang sudah
ditetapkan
7.
sebagian besar pelajaran diarahkan
oleh guru dan berorientasi pada teks,
8.
promosi tergantung pada penilaian
guru,
9.
kurikulum berpusat pada subjek
pendidik,
10. bahan ajar
yang paling umum tertera dalam kurikulum adalah buku-buku teks.
Pendidikan Tradisional:
1.
Guru berbicara murid menyimak
2. One man show
dimana guru menjadi satu-satunya pelaku pendidikan
3. Tatanan
bangku berurut
4. Masih
diberlakukan bentuk hukuman fisik bagi siswa yang tidak taat.
B. Pendidikan
Masyarakat Modern
Dalam
pembicaraan tentang perkiraan masyarakat masa depan secara tersirat telah pula
dibicarakan tentang tantangan-tantangan yang akan dihadapi manusia masa depan,
seperti kemampuan menyesuaikan diri dan memanfaatkan peluang globalisasi dalam
berbagai bidang, wawasan dan pengetahuan yang memadai tentang iptek umpamanya
melek teknologi tanpa harus menjadi pakar iptek, kemampuan menyaring dan
memanfaatkan arus informasi yang semakin padat dan cepat, dan kemampuan bekerja
efisien sebagai cikal bakal kemampuan professional. Keempat tantangan tersebut
merupakan gejala konstelasi dunia masa kini dan masa depan, dan oleh karena
itu, manusia Indonesia perlu berupaya untuk menyesuaikan diri sehingga menjadi
manusia modern.[4]
Berikut
merupakan konsep pendidikan modern dengan pendidikan
klasik.[5]
|
No |
Faktor Pembanding |
Pendidikan Klasik |
|
|
1 |
Pendidikan Moral |
Penanaman
Humanisme dengan cara Anti Kekerasan |
Penanaman
Humanisme dengan menggunakan Kekerasan dalam taraf wajar. |
|
2 |
Fungsi Guru |
Sebagai
Motivator dan Fasilitator. |
Pusat segala
aktivitas pendidikan baik di lingkungan sekolah maupun luar sekolah. |
|
3 |
Penerapan Etika |
Tergantung
pada masing-masing individu peserta didik. |
Wajib diterapkan
di dalam maupun luar lingkungan sekolah. |
|
4 |
Punishment and Reward. |
berupa
himbauan dan apresiasi sesuai dengan kompetensi peserta didik. |
Berupa
himbauan dan apresiasi sesuai dengan kompetensi peserta didik. |
Sumber:
Ary H Gunawan. 2010. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka
Cipta.
Imran Manan.
1989. Antropologi Pendidikan.
Jakarta: Depdikbud
S. Nasution.
1995. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Umar
Tirtarahardja dan La Sulo. 2005. Pengantar
Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
http://zonainfosemua.blogspot.com/2011/02/pendidikan-modern-atau-pendidikan.html


0 komentar:
Posting Komentar