Welcome to my blog, hope you enjoy reading
RSS

Pages

Selasa, 23 Maret 2021

Hakikat Manusia dalam Pendidikan

 

Hakikat Manusia dalam Pendidikan

A.  Manusia sebagai Makhluk  Berpikir-Makhluk Pembelajar

Manusia adalah makhluk yang memiliki potensi berpikir. Berbeda dengan makhluk lainnya, potensi berpikir inilah yang menentukan keistimewaan dirinya sebagai manusia. Pada hakikatnya, secara menyeluruh kegiatan berpikir dapat pula disebut sebagai kegiatan belajar untuk mendapatkan pengetahuan baru. Dengan potensi berpikir, manusia dapat disebut sebagai makhluk pembelajar. Potensi berpikir adalah bagian dari komponen kejiwaan, yang berada dalam satu kesatuan dengan komponen kejiwaan lainnya, yaitu perasaan dan kehendak. Aristoteles mengidentifikasikan bahwa manusia sebagai ‘animal rationale’.

Sejauh mana potensi ini mempunyai daya dalam hal menentukan jati diri manusia sebagai makhluk pembelajar dapat dijelaskan secara akumulatif dengan mengarah pada persoalan-persoalan seperti objek pemikiran, alasan pemikiran, metoda pemikiran, dan tujuan pemikiran.

 

B.  Teori tentang Perkembangan Manusia

Pendidikan merupakan usaha yang sengaja dan terencana untuk membantu perkembangan potensi dan kemampuan anak agar bermanfaat bagi kepentingan hidupnya sebagai seorang individu dan sebagai warga negara/masyarakat, dengan memilih isi (materi), strategi kegiatan, dan teknik penilaian yang sesuai. Dilihat dari sudut perkembangan yang dialami oleh anak, maka usaha yang sengaja dan terencana (yang disebut pendidikan) tersebut ditujukan untuk membantu anak dalam menghadapi dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan yang dialaminya dalam setiap periode perkembangan. Dengan kata lain, pendidikan dipandang mempunyai peranan yang besar dalam mencapai keberhasilan perkembangan anak.

Dalam sejarah pendidikan dapat dijumpai berbagai pandangan atau teori mengenai bagaimana perkembangan manusia berlangsung, diantaranya sebagai berikut.

1.    Empirisme

Teori ini mengatakan bahwa hasil pendidikan dan perkembangan bergantung pada pengalaman-pengalaman yang diperoleh anak didik selama hidupnya. Pengalaman itu diperolehnya di dunia luar dirinya berdasarkan perangsang yang tersedia baginya. Perangsang itu dapat tersedia dengan sendirinya atau disediakan oleh apapun dan siapapun juga. Tokoh aliran ini adalah John Locke (1632-1704), seorang filsuf bangsa Inggris, yang berpendapat bahwa anak lahir di dunia ini sebagai kertas kosong atau sebagai meja berlapis lilin (Tabularasa) yang belum ada tulisan di atasnya.

Menurut teori empirisme, pendidik adalah mahakuasa dalam membentuk anak didik, menjadi apa yang diingininya. Pendidik dapat berbuat sekehendak hatinya, seperti ahli patung, yang memahat patung dari kayu, batu atau bahan lain menurut kesukaannya. Mendidik menurut aliran ini, adalah membentuk manusia menurut kehendak pendidik.

2.    Nativisme

Teori ini dikemukakan oleh Schopenheur, filsuf bangsa Jerman, 1788-1860, yang sangat bertolak belakang dengan teori empirisme. Dia berpendapat bahwa bayi lahir dengan pembawaan baik dan pembawaan buruk.

Dalam hubungannya dengan pendidikan dan perkembangan manusia, ia berpendapat bahwa hasil akhir pendidikan dan perkembangan ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperolehnya sejak kelahirannya. Lingkungan tidak berpengaruh sama sekali terhadap pendidikan dan perkembangan anak itu. Hasil pendidikan sepenuhnya bergantung pada pembawaan anak didik sendiri.

Mendidik diartikan oleh aliran nativisme ini sebagai “membiarkan anak tumbuh berdasarkan pembawaannya”.

3.    Naturalisme

Teori ini dikemukakan oleh J.J. Rousseau, filsuf bangsa Perancis, 1712-1778. Rousseau berpendapat dalam bukunya Emile bahwa: “semua adalah baik pada waktu baru datang dari tangan Sang Pencipta, tetapi semua menjadi buruk di tangan manusia”. Berbeda dengan Schopenheur, dia berpendapat bahwa semua anak yang baru lahir mempunyai pembawaan yang baik, tidak ada seorang anak pun lahir dengan pembawaan buruk. Namun, pembawaan baik tersebut menjadi buruk oleh tangan manusia. Artinya, pendidikan malah dapat merusak pembawaan anak yang baik waktu dilahirkan tadi. Jadi aliran naturalisme tidak memandang perlu adanya pendidikan itu bagi pengembangan bakat dan kemampuan anak.

4.    Konvergensi

Teori konvergensi ingin mengawinkan dua macam teori atau aliran yang sangat berlawanan, yaitu teori empirisme dan teori nativisme. Tokoh aliran ini adalah William Stern, seorang ahli pendidikan bangsa Jerman, 1871-1939, yang berpendapat bahwa anak dilahirkan dengan ke dunia itu dengan pembawaan baik maupun buruk.

Ia berpendapat bahwa teori empirisme dan nativisme itu terlalu berat sebelah atau terlalu ekstrem. Kedua-duanya mendukung benaran dan juga ketidakbenaran. Menurut teori konvergensi baik pembawaan maupun lingkungan mempunyai pengaruh terhadap hasil perkembangan anak didik. Jadi, menurut teori konvergensi:

a.       pendidikan mungkin diberikan;

b.      yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan itu sendiri;

c.       pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan kepada lingkungan anak didik untuk mengembangkan pembawaan yang baik dan mencegah berkembangnya pembawaan yang buruk.

 

C.  Sifat dan Wujud Hakikat Manusia

Umar dan La Sulo (2005) mengemukakan bahwa sifat hakikat manusia menjadi bidang kajian filsafat, khususnya filsafat antropologi. Hal ini menjadi keharusan karena pendidikan bukanlah sekedar soal praktek melainkan praktek yang berlandasan dan bertujuan. Sedangkan landasan dan tujuan pendidikan itu sendiri sifatnya filosofis normatif. Bersifat filosofis karena untuk mendapatkan landasan yang kukuh diperlukan adanya kajian yang bersifat mendasar, sistematis, dan universal tentang ciri hakiki manusia. Bersifat normatif karena pendidikan mempunyai tugas untuk menumbuh-kembangkan sifat hakikat manusia tersebut sebagai sesuatu yang bernilai luhur, dan hal itu menjadi keharusan. Sifat hakikat manusia diartikan sebagai ciri-ciri karakteristik, yang secara prinsipil membedakan manusia dari hewan.

Wujud sifat hakikat manusia (yang tidak dimiliki oleh hewan) yang dikemukakan oleh paham eksistensialisme dengan maksud menjadi masukan dalam membenahi konsep pendidikan, yaitu:

1.        kemampuan menyadari diri;

2.        kemampuan bereksistensi;

3.        pemilikan kata hati;

4.        moral;

5.        kemampuan bertanggung jawab;

6.        rasa kebebasan (kemerdekaan);

7.        kesediaan melaksanakan kewajiban dan menyadari hak;

8.        kemampuan menghayati kebahagiaan.

Sumber:

1.    Drs. B. Suryosubroto. 2010. Beberapa Aspek Dasar-Dasar Kependidikan. PT Rineka Cipta. Jakarta.

2.    Drs. Uyoh Sadulloh M.Pd. 2009. Pengantar Filsafat Pendidikan.  CV Alfabeta. Bandung

3.    Prof.Dr.Umar Tirtarahardja dan Drs.S.L.La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. PT Rineka Cipta. Jakarta

4.    Suparlan Suhartono, Ph.D. 2008. Wawasan Pendidikan. Ar-Ruzz Media. Jogjakarta.

 

0 komentar: