Welcome to my blog, hope you enjoy reading
RSS

Pages

Selasa, 23 Maret 2021

Peran dan Tuntutan Guru

 

Pendidik

A.  Peranan Guru

Fuad (2011:8) menyatakan bahwa guru sebagai pendidik menurut jabatan menerima tanggung jawab dari tiga pihak yaitu orang tua, masyarakat dan negara. Tanggung jawab dari orang tua diterima guru atas dasar kepercayaan, bahwa guru mampu memberikan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan perkembangan peserta didik dan diharapkan pula dari pribadi guru memancar sikap-sikap dan sifat-sifat yang normatif baik sebagai kelanjutan dari sikap dan sifat orang tua pada umumnya, antara lain:

1.    kasih sayang kepada peserta didik;

2.    tanggung jawab kepada tugas pendidik.

Slameto (2003) mengemukakan bahwa dalam proses belajar-mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing, dan memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan. Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa. Penyampaian materi pelajaran hanyalah merupakan salah satu dari berbagai kegiatan dalam belajar sebagai suatu proses yang dinamis dalam segala fase dan proses perkembangan siswa. Secara lebih terperinci tugas guru berpusat pada:

1.    mendidik dengan titik berat memberikan arah dan motivasi pencapaian tujuan baik jangka pendek maupun jangka panjang;

2.    memberi fasilitas pencapaian tujuan melalui pengalaman belajar yang memadai;

3.    membantu perkembangan aspek-aspek pribadi seperti sikap, nilai-nilai, dan penyesuaian diri.

Demikianlah, dalam proses belajar-mengajar guru tidak terbatas sebagai penyampai ilmu pengetahuan akan tetapi lebih dari itu, ia bertanggung jawab akan keseluruhan perkembangan kepribadian siswa. Guru harus mampu menciptakan proses belajar yang sedemikian rupa sehingga dapat merangsang siswa untuk belajar secara aktif dan dinamis dalam memenuhi kebutuhan dan menciptakan tujuan.

Selanjutnya, guru hendaknya senantiasa berusaha untuk menimbulkan, memelihara, dan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa motif berprestasi mempunyai korelasi positif dan cukup berarti terhadap pencapaian prestasi belajar. Hal ini berarti bahwa tinggi rendahnya prestasi belajar banyak ditentukan oleh tinggi rendahnya motif berprestasi. Dalam hubungan ini guru mempunyai fungsi sebagai motivator dalam keseluruhan kegiatan belajar-mengajar. Ada empat hal yang dapat dikerjakan guru dalam memberikan motivasi, yaitu:

1.    membangkitkan dorongan kepada siswa untuk belajar;

2.    menjelaskan secara konkret kepada siswa apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran;

3.    memberikan ganjaran terhadap prestasi yang dicapai sehingga dapat merangsang untuk mencapai prestasi yang lebih baik di kemudian hari, dan

4.    membentuk kebiasaan belajar yang baik.

Sebagai pembimbing dalam belajar, guru diharapkan mampu untuk:

1.    mengenal dan memahami setiap siswa baik secara individu maupun kelompok;

2.    memberikan penerangan kepada siswa mengenai hal-hal yang diperlukan dalam proses belajar;

3.    memberikan kesempatan yang memadai agar setiap siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan pribadinya;

4.    membantu setiap siswa dalam mengatasi masalah-masalah pribadi yang dihadapinya;

5.    menilai keberhasilan setiap langkah kegiatan yang telah dilakukannya.

 

 

B.  Tuntutan Guru

 

Guru yang dapat berperan sebagai pembimbing yang tidak menimbulkan pertentangan, yaitu sebagai berikut.

1.      Mengajar mata pelajaran, yaitu guru yang:

a.       dapat menimbulkan minat dan semangat belajar siswa-siswa melalui mata pelajaran yang diajarkannya,

b.      memiliki kecakapan untuk memimpin,

c.       dapat menghubungkan materi pelajaran dengan pekerjaan-pekerjaan praktis.

2.      Hubungan siswa dengan guru, yaitu guru yang:

a.       dicari oleh siswa untuk memperoleh nasihat dan bantuan,

b.      mencari kontak dengan siswa di luar kelas,

c.       memimpin kegiatan kelompok,

d.      memiliki minat dalam pelayanan sosial,

e.       membuat kontak dengan orang tua siswa.

3.      Hubungan guru dengan guru, yaitu guru yang:

a.       menunjukkan kecakapan bekerja sama dengan guru lain,

b.      tidak menimbulkan pertentangan,

c.       menunjukkan kecakapan untuk berdiri sendiri,

d.      menunjukkan kepemimpinan yang baik dan tidak mementingkan diri sendiri.

4.      Pencatatan dan penelitian, yaitu guru yang:

a.       mempunyai sikap ilmiah objektif,

b.      lebih suka mengukur dan tidak menebak,

c.       berminat dalam masalah-masalah penelitian,

d.      efisien dalam pekerjaan-pekerjaan tulis-menulis,

e.       melihat kesempatan untuk penelitian dalam kegiatan-kegiatan tulis-menulis.

5.      Sikap profesional, yaitu guru yang:

a.       sukarela untuk melakukan pekerjaan ekstra,

b.      telah menunjukkan dapat menyesuaikan diri dan sabar,

c.       memiliki sikap yang konstruktif dan rasa tanggung jawab,

d.      berkemauan untuk melatih diri,

e.       memiliki semangat untuk memberikan layanan kepada siswa, sekolah dan masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber:

1.    Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. PT Rineka Cipta. Jakarta

2.    Drs. H. Fuad Ihsan. 2012. Dasar-Dasar Kependidikan. PT Rineka Cipta. Jakarta

 

Pendidikan Sebagai Ilmu

 

A. Pendidikan Sebagai Ilmu

 

Menurut Taqiyudin (2008:47), perkembangan pemikiran manusia dalam memberikan batasan tentang makna dan pengertian pendidikan, setiap saat selalu menunjukkan adanya perubahan. Perubahan itu didasarkan atas berbagai temuan dan perubahan di lapangan yang berkaitan dengan semakin bertambahnya komponen sistem pendidikan yang ada. Berkembangnya pola pikir para ahli pendidikan, pengelola pendidikan dan pengamat pendidikan yang membuahkan teori-teori baru. Kemajuan alat teknologi turut andil dalam mewarnai perubahan makna dan pengertian pendidikan tersebut. Pada saat yang sama, proses pembelajaran dan pendidikan selalu eksis dan terus berlangsung. Karena itu, bisa jadi pandangan seseorang tentang makna atau pengertian pendidikan yang dianut oleh suatu negara tertentu, pada saat yang berbeda dan di tempat yang berbeda makna dan pengertian pendidikan itu justru tidak relevan.

 

Nur Ubiyati (2005:12) mengemukakan, bahwa ilmu ialah suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan mempunyai metode-metode tertentu yang bersifat ilmiah.

Kita dapat mengatakan, bahwa di mana ada kehidupan manusia, bagaimanapun juga di situ pasti ada pendidikan (Dwi Siswoyo, 2008: 28). Menurut S. Brodjonagoro (1966: 35), ilmu pendidikan atau paedagogiek adalah teori pendidikan, perenungan tentang pendidikan.

Senada juga dengan pendapat bahwa pada umumnya pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses bantuan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya. Pendidikan juga bisa disebut sebagai usaha manusia untuk menyiapkan dirinya untuk kehidupan yang bermakna (Ahmad:2002).

 

Berdasarkan uraian di atas, maka bisa diambil suatu pemahaman, ilmu pendidikan adalah suatu kumpulan pengetahuan atau konsep yang tersusun secara sistematis dan mempunyai metode-metode tertentu yang bersifat ilmiah yang menyelidiki, merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan mendidik atau suatu proses bantuan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya dalam rangka mempersiapkan dirinya untuk kehidupan yang bermakna.

 

B. Persyaratan Pendidikan sebagai Ilmu

Suatu kawasan studi dapat tampil atau menampilkan diri sebagai suatu disiplin ilmu, bila dipenuhi setidak-tidaknya tiga syarat, yaitu:

1.    Memiliki objek studi (objek material dan objek formal)

2.    Memiliki sistematika

3.    Memiliki metode

Objek material ilmu pendidikan adalah perilaku manusia. Objek formal ilmu pendidikan adalah menelaah fenomena pendidikan dalam perspektif yang luas dan integrative.

Secara teoritik sistematika ilmu pendidikan dapat dibedakan menjadi tiga segi tinjauan, yaitu:

1.      Melihat pendidikan sebagai gejala yang manusiawi

2.      Dengan melihat pendidikan sebagai upaya sadar

3.      Dengan melihat pendidikan sebagai gejala manusiawi, sekaligus upaya sadar dengan mengantisipasi perkembangan sosio-budaya di masa depan

Sistematika yang pertama, pendidikan sebagai gejala, dapat dianalisis dan proses atau situasi pendidikan, yaitu adanya komponen-komponen pendidikan yang secara terpadu saling berinteraksi dalam suatu rangkaian keseluruhan kebulatan kesatuan dalam mencapai tujuan. Komponene-komponen pendidikan itu adalah sebagai berikut.

 

1.      Tujuan Pendidikan

2.      Peserta didik

3.      Pendidik

4.      Isi Pendidikan

5.      Metode Pendidikan

6.      Alat Pendidikan

7.      Lingkungan Pendidikan

Sistematika yang kedua, pendidikan sebagai upaya sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan manusia. Sistematika yang kedua ini menurut Noeng Muhadjir (1987: 19-37) bertolak dan fungsi pendidikan, yaitu:

1.      Menumbuhkan kreatifitas peserta didik (pendidikan kreatifitas)

2.      Menjaga lestarinya nilai-nilai insan dan nilai-nilai ilahi (pendidikan moralitas)

3.      Menyiapkan tenaga kerja produktif (pendidikan produktifitas)

Sistematika yang ketiga melihat pendidikan sebagai gejala manusiawi sekaligus sebagai upaya sadar dengan mengantisipasi konteks perkembangan sosio-budaya di masa depan. Sehubungan dengan ini Mochtar Buchori (1994: 81-86) ilmu pendidikan memiliki tiga dimensi yang dapat kita bedakan sebagai sistematika ilmu pendidikan, yaitu:

1.      Dimensi lingkungan pendidikan

2.      Dimensi jenis-jenis persoalan pendidikan

3.      Dimensi waktu dan ruang

Selanjutnya syarat ketiga bagi disiplin ilmu, yaitu memiliki metode. Dalam arti kata sesungguhnya, maka metode adalah cara atau jalan. Metode-metode yang dapat dipakai untuk ilmu pendidikan sebagai berikut.

1.      Metode Normatif

Metode berkenaan dengan konsep manusia yang diideaalkan yang ingin dicapai oleh pendidikan. Metode ini juga menjawab pertanyyan yang berkenaan denga masalah nilai baik dan nilai buruk.

2.      Metode Eksplanatori

Metode ini bersangkut paut dengan  pertanyaan tentang kondisi dan kekuatan apa yang membuat suatu proses pendidikan berhasil.

3.      Metode Teknologis

Metode ini mempunyai fungsi untuk menungkapkan bagaimana melakukannya dalam rangka menuju keberhasilan pencapaian tujuan-tujuan yang diinginkan.

4.      Metode Deskriptif-Fenomenologis

Metode ini mencoba menguraikan kenyataan-kenyataan pendidikan dan kemudian mengklasifikasikan sehingga ditemukan yang hakiki.

5.      Metode Hermeneutis

Metode ini untuk memahami kenyataan pendidikan yang konkrit dan historis untuk menjelaskan makna, struktur dan kegiatan pendidikan.

6.      Metode Analisis Kritis (Filosofis)

Metode ini menganalisis secara kritis tentang istilah-istilah, pernyataan-pernyataan, konsep-konsep dan teori-teori yang ada atanu digunakan dalam pendidikan. Syarat lain bagi disiplin ilmu pendidikan adalahmemiliki evidensi empiris, yaitu adanya kesesuaian (korespondensi) antara konsepsi teoritisnya dengan permasalahan-permasalahan dalam praktek sehingga di samping dapat menjelaskan kasus-kasus yang timbul, juga sekaligus dapat mendukung diaplikasikannya dalam menjawab permasalahan pendidikan di lapangan, dalam lingkup kajian ilmu pendidikan.

 

 

Sumber:

1.    Muhadjir, Noeng, 1987. Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial: Suatu Teori Pendidikan. Yogyakarta: Reka Sarasih

2.    Dwi Siswoyo, dkk. 2008. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press

3.    Taqiyudin, M. 2008. Sejarah Pendidikan, Melacak Geneologi Pendidikan Islam di Indonesia. Bandung , Mulia Pers

4.    Mochtar Buchori. 1994. Ilmu Pendidikan dan Praktek Pendidikan dalam Renungan. Yogyakarta: Tiara Wacana

5.    Brodjonagoro, Sutedjo.1966. Pendidikan Nasional. Yogyakarta: FIP-IKIP Yogyakarta.

6.    DR. Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya., 2002

7.    Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam (IPI. Bandung, CV. Pustaka Setia, 2005

Makna Pendidikan, Pengajaran, dan Pelatihan

Makna Pendidikan, Pengajaran, dan Pelatihan

A.  Pendidikan

Suparlan (2008), mengemukakan bahwa menurut sudut pandang yang luas, pendidikan adalah segala jenis pengalaman kehidupan yang mendorong timbulnya minat belajar untuk mengetahui dan kemudian bisa mengerjakan sesuatu hal yang telah diketahui itu. Selanjutnya, dengan daya cipta, manusia mulai mengubah dan mengembangkan pendidikan dengan beraneka ragam konsep, teori, metode, dan sistem. Upaya untuk mengembangkan pendidikan secara rasional seperti itu ditentukan oleh kemampuan daya pikiran, menurut keadaan alam dan kebutuhan riil yang ada. Dari keterangan tersebut, dapat ditarik suatu penilaian bahwa pendidikan adalah upaya sadar manusia untuk membuat perubahan dan perkembangan agar kehidupannya menjadi lebih baik, dalam artian menjadi lebih maju.

Dalam arti luas, pendidikan dapat diidentifikasi karakteristiknya sebagai berikut.

1.        Pendidikan berlangsung sepanjang zaman (long life education). Artinya, dari sejak kelahiran sampai pada hari kematian, seluruh kegiatan kehidupan manusia adalah kegiatan pendidikan. Tidak ada sejengkal ruang dan sedetik pun waktu tanpa pendidikan.

2.        Pendidikan berlangsung di setiap lini kehidupan. Artinya, di setiap aspek kehidupan pasti terkandung pendidikan, terlepas apakah aspek itu diciptakan atau ada secara alami.

3.        Pendidikan berlangsung di segala tempat di mana saja, maupun di setiap waktu kapan saja. Hal ini berarti bahwa pendidikan berada di setiap kegiatan kehidupan manusia yang berlangsung di mana dan kapan pun.

Menurut pendekatan dari sudut sempit, pendidikan merupakan seluruh kegiatan yang direncanakan serta dilaksanakan secara teratur dan terarah di lembaga pendidikan sekolah. Pendidikan diartikan sebagai sistem persekolahan.

Hasbullah (2003:1), mengemukakan bahwa secara sederhana, pendidikan sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam perkembangannya, istilah pendidikan atau paedagogie berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. Selanjutnya, pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental. Dari beberapa pengertian atau batasan pendidikan yang diberikan para ahli, meskipun berbeda secara redaksional, namun secara esensial terdapat kesatuan unsur-unsur atau faktor-faktor yang terdapat di dalamnya, yaitu bahwa pengertian pendidikan tersebut menunjukkan suatu proses bimbingan, tuntunan atau pimpinan yang didalamnya mengandung unsur-unsur seperti pendidik, anak didik, tujuan dan sebagainya. Karena itu dengan memperhatikan batasan-batasan pendidikan tersebut, ada beberapa pengertian dasar yang perlu dipahami, yaitu:

1.        pendidikan merupakan suatu proses terhadap anak didik yang berlangsung terus sampai anak didik mencapai pribadi dewasa susila;

2.        pendidikan merupakan perbuatan manusiawi;

3.        pendidikan merupakan hubungan antar pribadi pendidik dan anak didik;

4.        tindakan atau perbuatan mendidik menuntun anak didik mencapai tujuan-tujuan tertentu, dan hal ini tampak pada perubahan-perubahan dalam diri anak didik. Perubahan sebagai hasil pendidikan merupakan gejala kedewasaan yang secara terus-menerus mengalami peningkatan sampai penentuan diri atas tanggung jawab sendiri oleh anak didik atau terbentuknya pribadi dewasa susila.

B.  Pengajaran

Istilah "pengajaran" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991) berasal dari kata "ajar", artinya petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut). Kata "mengajar" berarti memberi pelajaran. Contoh: "Guru itu mengajar murid matematika". Sedangkan kata "mengajarkan" berarti memberikan pelajaran. Contoh: Siapa yang menga-jarkan sejarah kepada murid-murid kelas VI?" Berdasarkan arti-arti ini, kemudian Kamus Besar Bahasa Indonesia itu mengartikan pengajaran sebagai "proses perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan".

Selanjutnya, istilah pengajaran dalam bahasa Inggris disebut instruction atau teaching. Akar kata instruction adalah to instruct, artinya to direct to do something; to teach to do something; to furnish with information, yakni memberi pengarahan agar melakukan sesuatu; mengajar agar melakukan sesuatu; memberi informasi. Istilah instruction (pengajaran) menurut Reber (1988) berarti: pendidikan atau proses perbuatan mengajarkan pengetahuan.

Sementara itu, menurut Jones A. Majid, (2005:16), pengajaran adalah suatu cara bagaimana mempersiapkan pengalaman belajar bagi peserta didik. Dengan kata lain pengajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh para guru dalam membimbing, membantu, dan mengarahkan peserta didik untuk memiliki pengalaman belajar. Sedangkan menurut Tardif (1987) pengajaran memberi arti instruction secara lebih rinci yaitu a preplanned, goal directed educational proces designed tofacilitate learning. artinya adalah sebuah proses kependidikan yang sebelumnya direncanakan dan diarahkan untuk mencapai tujuan sertadirancang untuk mempermudah belajar.

 

 

C.  Pelatihan

Menurut DeCenzo dan Robin (1999), Training is a learning experience in that it seeks a relatively permanent change in an individual that will improve the ability to perform on the job. Ini berarti bahwa pelatihan adalah suatu pengalaman pembelajaran didalam mencari perubahan permanen secara relatif pada suatu individu yang akan memperbaiki kemampuan dalam melaksanakan pekerjaannya itu.

Pelatihan diartikan sebagai aktivitas bersama antara ahli (expert) dan pembelajar (learner) bekerja sama dalam rangkan metransfer information secara efektif dari ahli kepada pembelajar (learner) untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keahlian pembelajar sehingga si pembelajar dapat menampilkan pengerjaan tugas dan pekerjaan lebih untuk selanjutnya. Dalam aplikasinya, kini training sering dikaitkan dengan development. Secara umum pengertian keduanya ini adalah sebuah bidang studi yang peduli dengan pembelajaran.

Dalam perspektif psikologi, pelatihan berada dalam ruang lingkup pengajaran. Artinya, pelatihan adalah salah satu unsur pelaksanaan proses pengajaran terutama dalam pengajaran keterampilan ranah karsa. Pelatihan adalah bagian pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan ketrampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku dalam waktu yang relatif singkat dan dengan metode yang lebih mengutamakan praktek dari pada teori. Dan pelatihan merupakan proses pembelajaran dalam usaha mencapai atau meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap pada bidang kompetensi tertentu.

 

 

 

 

Sumber:

1.    Suparlan Suhartono, Ph.D. 2005. Wawasan Pendidikan. Ar-Ruzz Media. Jogjakarta

2.    Hasbullah. 2003. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta

3.    Syah Muhibbin. 2003. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.

4.    Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1991.


Kamis, 26 November 2015

Contoh RPP Geografi Kelas XI Kurikulum 2013 (Penggunaan Buku Digital)


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Sekolah                      
Mata Pelajaran            : Geografi
Kelas/Jurusan              : XI/SOSHUM 1
Semester                      : 2       
Materi Pokok              : Lingkungan Hidup (Aliran Energi, Rantai Makanan,
   Siklus Biogeokimia)
Alokasi Waktu            : 4 x 45menit (Pertemuan ke-1 dan 2)

Selasa, 18 Februari 2014

Pendidikan


Suparlan (2008), mengemukakan bahwa menurut sudut pandang yang luas, pendidikan adalah segala jenis pengalaman kehidupan yang mendorong timbulnya minat belajar untuk mengetahui dan kemudian bisa mengerjakan sesuatu hal yang telah diketahui itu. Selanjutnya, dengan daya cipta, manusia mulai mengubah dan mengembangkan pendidikan dengan beraneka ragam konsep, teori, metode, dan sistem. Upaya untuk mengembangkan pendidikan secara rasional seperti itu ditentukan oleh kemampuan daya pikiran, menurut keadaan alam dan kebutuhan riil yang ada. Dari keterangan tersebut, dapat ditarik suatu penilaian bahwa pendidikan adalah upaya sadar manusia untuk membuat perubahan dan perkembangan agar kehidupannya menjadi lebih baik, dalam artian menjadi lebih maju.
Dalam arti luas, pendidikan dapat diidentifikasi karakteristiknya sebagai berikut.
1.        Pendidikan berlangsung sepanjang zaman (long life education). Artinya, dari sejak kelahiran sampai pada hari kematian, seluruh kegiatan kehidupan manusia adalah kegiatan pendidikan. Tidak ada sejengkal ruang dan sedetik pun waktu tanpa pendidikan.
2.       Pendidikan berlangsung di setiap lini kehidupan. Artinya, di setiap aspek kehidupan pasti terkandung pendidikan, terlepas apakah aspek itu diciptakan atau ada secara alami.
3.     Pendidikan berlangsung di segala tempat di mana saja, maupun di setiap waktu kapan saja. Hal ini berarti bahwa pendidikan berada di setiap kegiatan kehidupan manusia yang berlangsung di mana dan kapan pun.
Menurut pendekatan dari sudut sempit, pendidikan merupakan seluruh kegiatan yang direncanakan serta dilaksanakan secara teratur dan terarah di lembaga pendidikan sekolah. Pendidikan diartikan sebagai sistem persekolahan.
Hasbullah (2003:1), mengemukakan bahwa secara sederhana, pendidikan sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam perkembangannya, istilah pendidikan atau paedagogie berarti bimbingan atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa agar ia menjadi dewasa. Selanjutnya, pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental. Dari beberapa pengertian atau batasan pendidikan yang diberikan para ahli, meskipun berbeda secara redaksional, namun secara esensial terdapat kesatuan unsur-unsur atau faktor-faktor yang terdapat di dalamnya, yaitu bahwa pengertian pendidikan tersebut menunjukkan suatu proses bimbingan, tuntunan atau pimpinan yang didalamnya mengandung unsur-unsur seperti pendidik, anak didik, tujuan dan sebagainya. Karena itu dengan memperhatikan batasan-batasan pendidikan tersebut, ada beberapa pengertian dasar yang perlu dipahami, yaitu:
1.     pendidikan merupakan suatu proses terhadap anak didik yang berlangsung terus sampai anak didik mencapai pribadi dewasa susila;
2.        pendidikan merupakan perbuatan manusiawi;
3.        pendidikan merupakan hubungan antar pribadi pendidik dan anak didik;
4.     tindakan atau perbuatan mendidik menuntun anak didik mencapai tujuan-tujuan tertentu, dan hal ini tampak pada perubahan-perubahan dalam diri anak didik. Perubahan sebagai hasil pendidikan merupakan gejala kedewasaan yang secara terus-menerus mengalami peningkatan sampai penentuan diri atas tanggung jawab sendiri oleh anak didik atau terbentuknya pribadi dewasa susila.