Model pembelajaran Think-Pair-Share diharapkan untuk
dapat mengembangkan keterampilan berfikir dan menjawab dalam komunikasi antara
satu dengan yang lain, serta bekerja saling membantu dalam kelompok kecil. Hal
ini sesuai dengan pengertian dari model pembelajaran Think-Pair-Share itu
sendiri, sebagaimana yang dikemukakan oleh Lie (2002:57) bahwa,
“Think-Pair-Share adalah pembelajaran yang memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri dan bekerjasama dengan orang lain”. Dalam hal ini, guru sangat berperan penting untuk membimbing siswa melakukan diskusi, sehingga terciptanya suasana belajar yang lebih hidup, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
“Think-Pair-Share adalah pembelajaran yang memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri dan bekerjasama dengan orang lain”. Dalam hal ini, guru sangat berperan penting untuk membimbing siswa melakukan diskusi, sehingga terciptanya suasana belajar yang lebih hidup, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Dengan demikian jelas bahwa melalui
model pembelajaran Think-Pair-Share, siswa secara langsung dapat memecahkan
masalah, memahami suatu materi secara berkelompok dan saling membantu antara
satu dengan yang lainnya, membuat kesimpulan (diskusi) serta mempresentasikan
di depan kelas sebagai salah satu langkah evaluasi terhadap kegiatan
pembelajaran yang telah dilakukan.
Lie, 2004:58, mengemukakan langkah-langkah
dalam pembelajaran Think-Pair-Share
yaitu:
1.
guru membagi siswa
dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok,
2.
setiap siswa memikirkan
dan mengerjakan tugas tersebut sendiri,
3.
siswa berpasangan
dengan salah satu rekan dalam kelompok dan
berdiskusi dengan pasangannya,
4.
kedua pasangan bertemu
kembali dalam kelompok berempat. Siswa mempunyai kesempatan untuk membagikan
hasil kerjanya kepada kelompok berempat.
Tahap utama dalam pembelajaran
Think-Pair-Share menurut Ibrahim,dkk (2006:
26-27) adalah sebagai berikut.
a. Tahap 1 : Thinking (berpikir)
Guru mengajukan pertanyaan atau isu
yang berhubungan dengan pelajaran. Kemudian siswa diminta untuk memikirkan
pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
b. Tahap 2 : Pairing (Berpasangan)
Guru meminta siswa berpasangan dengan
siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama.
Dalam tahap ini, setiap anggota pada kelompok membandingkan jawaban atau hasil
pemikiran mereka dengan mendefinisikan jawaban yang dianggap paling benar,
paling meyakinkan, atau paling unik. Biasanya
guru memberi waktu 4-5 menit untuk berpasangan.
c. Tahap 3 : Sharing (berbagi)
Pada tahap akhir, guru meminta kepada
pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka
bicarakan. Keterampilan berbagi dalam seluruh kelas dapat dilakukan dengan
menunjuk pasangan yang secara sukarela bersedia melaporkan hasil kerja
kelompoknya atau bergiliran pasangan demi pasangan hingga sekitar seperempat
pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.
Menurut Ibrahim,
dkk. (2000:6), kelebihan metode pembelajaran Think Pair Share
(TPS), diantaranya yaitu sebagai berikut.
a. Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas. Penggunaan
metode pembelajaran TPS menuntut siswa menggunakan waktunya untuk mengerjakan
tugas-tugas atau permasalahan yang diberikan oleh guru di awal pertemuan
sehingga diharapkan siswa mampu memahami materi dengan baik sebelum guru
menyampaikannya pada pertemuan selanjutnya.
b. Memperbaiki kehadiran. Tugas yang diberikan oleh
guru pada setiap pertemuan selain untuk melibatkan siswa secara aktif dalam
proses pembelajaran juga dimaksudkan agar siswa dapat selalu berusaha hadir
pada setiap pertemuan. Sebab bagi siswa yang sekali tidak hadir maka siswa
tersebut tidak mengerjakan tugas dan hal ini akan mempengaruhi hasil belajar mereka.
c. Angka putus sekolah berkurang. Model pembelajaran
TPS diharapkan dapat memotivasi siswa dalam pembelajaran sehingga hasil belajar
siswa dapat lebih baik daripada pembelajaran dengan model konvensional.
d. Sikap apatis berkurang. Sebelum pembelajaran
dimulai, kencenderungan siswa merasa malas karena proses belajar di kelas hanya
mendengarkan apa yang disampaikan guru dan menjawab semua yang ditanyakan oleh
guru. Dengan melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar,
metode pembelajaran TPS akan lebih menarik dan tidak monoton dibandingkan
metode konvensional.
e. Penerimaan terhadap individu lebih besar. Dalam
model pembelajaran konvensional, siswa yang aktif di dalam kelas hanyalah siswa
tertentu yang benar-benar rajin dan cepat dalam menerima materi yang
disampaikan oleh guru sedangkan siswa lain hanyalah “pendengar” materi yang
disampaikan oleh guru. Dengan pembelajaran TPS hal ini dapat
diminimalisir sebab semua siswa akan terlibat dengan permasalahan yang
diberikan oleh guru.
f. Hasil belajar lebih mendalam. Parameter dalam PBM
adalah hasil belajar yang diraih oleh siswa. Dengan pembelajaran TPS
perkembangan hasil belajar siswa dapat diidentifikasi secara bertahap. Sehingga
pada akhir pembelajaran hasil yang diperoleh siswa dapat lebih optimal.
g. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi.
Sistem kerjasama yang diterapkan dalam model pembelajaran TPS menuntut siswa
untuk dapat bekerja sama dalam tim, sehingga siswa dituntut untuk dapat belajar
berempati, menerima pendapat orang lain atau mengakui secara sportif jika
pendapatnya tidak diterima


0 komentar:
Posting Komentar