Cepi & Rudi Susilana (2008:19), menyatakan “film disebut juga gambar hidup (motion pictures), yaitu serangkaian gambar
diam (still pictures) yang meluncur secara cepat dan diproyeksikan sehingga
menimbulkan kesan hidup dan bergerak. Film merupakan media yang menyajikan
audiovisual dan gerak.”
Film merupakan media yang amat besar kemampuannya dalam membantu proses
belajar mengajar. Sebagai suatu media, menurut Arief S. Sadiman dkk (2009:68)
film mempunyai beberapa keunggulan sebagai berikut.
a. Film merupakan suatu denominator yang umum. Baik anak yang cerdas maupun
lamban akan memperoleh sesuatu dari film yang sama. Keterampilan membaca atau
penguasaan membaca atau penguasaan bahasa yang kurang bisa diatasi dengan
menggunakan film.
b. Film sangat bagus untuk menerangkan suatu proses, dengan gerakan lambat,
pengulangan akan memperjelas uraian dan ilustrasi.
c. Film dapat kembali menampilkan masa lalu dan menyajikannya kembali
d. Film dapat mengembara dengan lincahnya dari suatu negara ke negara lain
e. Film dapat menyajikan baik teori maupun praktik
f. Film dapat mendatangkan seorang ahli dan memperdengarkan suaranya dikelas
g. Film dapat menggunakan teknik-teknik seperti warna, gerak lambat, animasi
dan lain-lain.
h. Film memikat perhatian anak
i. Film lebih realistis, dapat diulang-ulang, dihentikan dan sebagainya,
sesuai dengan kebutuhan. Hal yang abstrak dapat menjadi jelas.
j. Film dapat mengatasi keterbatasan daya indera (penglihatan)
k. Film dapat merangsang dan memotivasi kegiatan anak-anak.
Film
yang baik adalah film yang dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam hubungannya dengan apa yang dipelajari. Dalam
menilai baik tidaknya sebuah film, Oemar Hamalik, 1985 dalam Insan Cita (2010) mengemukakan bahwa film yang baik memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
a.
dapat menarik minat anak,
b.
benar dan autentik,
c.
up to date dalam setting, pakaian dan lingkungan,
d.
sesuai dengan tingkatan kematangan audien,
e.
perbendaharaan bahasa yang dipergunakan secara benar,
f.
kesatuan dan squnce-nya cukup teratur,
g. teknis yang
dipergunakan cukup memenuhi persyaratan dan cukup memuaskan.
Ada beberapa jenis Film yang dapat dijadikan media pembelajaran. Menurut Insan Cita (2010), jenis-jenis
film adalah sebagai berikut.
a. Film Dokumenter
Istilah ”dokumenter” atau documentary adalah
turunan dari bahasa Perancis, documentaire, yang artinya sebuah film
atau pembicaraan yang menggambarkan perjalanan di suatu negeri tertentu.
Menurut Heinich dkk seperti yang dikutip Yudhi Munadi (2008:117) dalam Insan
Cita (2010), film-film dokumenter adalah film-film yang dibuat berdasarkan
fakta bukan fiksi dan bukan pula memfiksikan yang fakta
atau dengan kata lain, Gierson berpendapat bahwa documentary sebagai “a
creative treatment of actuality” yakni perlakuan kreatif terhadap suatu
kenyataan. Poin penting dalam film ini, adalah menggambarkan permasalahan
kehidupan manusia meliputi bidang ekonomi, budaya, hubungan antarmanusia, etika
dan lainya. Misal, film tentang dampak globalisasi terhadap sosial budaya di
suatu daerah atau negara. Dampak krisis global bagi perekonomian negara.
Unsur-unsur yang dibutuhkan dalam film dokumenter, yaitu sebagai berikut.
1) Kita harus
memiliki gambar yang baik yakni sebuah bukti visual yang mengajukan pertanyaan
tentang film dokumenter tersebut dalam bahasa visual.
2) Kita harus
memiliki ide atau konsep yang mengekspresikansudut pandang karya dokumenter
tersebut.
3) Kita harus memiliki
sebuah stuktur yaitu progresi gambar dan suara secara teratur yang akan menarik
minat audiens dan menghadirkan sudut pandang dari karya dokumenter tersebut
sebagai sebuah argumen visual.
b. Dokudrama (Docudrama)
Dokudrama
adalah film-film dokumenter yang membutuhkan pengadegan dimana pada beberapa bagian
film disutradarai atau diatur terlebih dahulu dengan perencanaan yang detail.
Dokudrama muncul sebagai solusi atas permasalahan mendasar . Film dokumenter
yakni untuk memfilmkan peristiwa yang sudah atau belum pernah terjadi.
c. Dokumenter
Perilaku (Documentaries of behavior)
Dokumenter
Perilaku adalah dokumenter yang menjadikan perilaku manusia sebagai objeknya.
Dengan adanya kamera dan peralatan rekam yang ringan, dan bisa dengan mudah di
bawa kemana saja, dimungkinkan bagi pembuat dokumenter untuk mengikuti orang
dan mengamati perilaku mereka dalam film atau videotape.
d. Dokumentari Emosi
(Documentaries of Emotion)
Sementara dokumenter perilaku mendorong ke suatu
arah baru, beberapa praktisi dokumenter mulai mengeksplorasi bentuk lain dari
perilaku, yang disebut dengan dokumenter emosi. Salah satu contoh adalah karya
Allie Light, dalam film Dialogues with Madwomen, yang mengeksplorasi
dimensi-dimensi emosional dari penderita sakit mental.
e. Film Episode
Film episode yaitu film yang terdiri
dari edisi-edisi yang pendek. Sifat dasar film episode ini non profit.
f. Film Provokasi
Film provokasi ditujukan untuk menjelaskan mata pelajaran
tertentu kepada anak didik, misalnya studi sosial, etika, dan sebagainya. Film
provokasi ini akan mendorong adanyadiskusi diantara anak-anak di kelas.
g. Reality Video
Reality
video merupakan genre baru dokumenter. Awalnya, ini dimulai dengan program
komedi di televisi, yang mengandalkan pada kiriman cuplikan-cuplikan video yang
konyol dan lucu dari para penonton. Kemudian, tayangan ini menghasilkan
tumbuhnya minat baru pada dokumenter aktualitas ( actuality documentary).
h. Film Drama dan
Semidrama
Keduanya
melukiskan human relation. Tema-temanya bisa dari kisah nyata dan bisa
juga tidak yakni dari nilai-nilai kehidupan yang kemudian diramu menjadi sebuah
cerita. Misalnya, tentang penyesalan orang kafir, dihukum karena pelit, takut
kepada Allah, bersabar, indahnya hidup damai, kejujuran dan lain-lain.


0 komentar:
Posting Komentar