Babeh, Mimih, Aa, Teteh..
Betapa ingin raga ini memeluk kalian
Menjemput kalian
Membahagiakan kalian
Saat ini, detik ini, betapa ingin tiba-tiba ada di
rumah, bercengkrama dengan kalian. Ratusan km yang terbentang sangat menyiksa. Waktu
terasa amat lambat. Tak terasa, hampir 3 bulan sudah ade tak pulang, mengejar
impian, menjemput takdir, yang entah apa.
Disini dingin, sangat dingin. Selimut setebal apapun
tak mampu menggantikan kehangatan pelukmu Mih. Tausyiah sedahsyat apapun tak
dapat menggantikan nasihatmu Beh. Film selucu apapun belum mampu menyaingi
nyaringnya tawa ku saat bercanda dengan mu A, Teh. Aku rindu semuanya. Aku rindu
mencium bau hujan disana, menatap sungai dan sawah depan rumah, menghirup
segarnya udara pegunungan. Teknologi secanggih apapun, belum mampu menggantikan
itu semua.
Betapa ingin meluncur sejenak ke masa dulu, ketika
tenaga belum beranjak dari tubuh sasa mu Beh. Ah.. betapa kenangan itu tak kan
tergantikan. Duduk di pundakmu ketika engkau berjalan adalah hobiku. Mendengarkan
cerita dan nasihatmu adalah makananku. Semangatmu adalah hidupku. Bahkan,
engkau bersedia menggambarkan kangguru untuk tugasku, saat aku hampir menangis putus
asa. Engkau bersedia menahan malu untukku, berhutang kesana kemari, ketika aku
memaksakan kehendakku. Babeh selalu berusaha memberi yang terbaik untuk
kehidupanku. Selalu. Aku tahu itu. Sampai kini, disaat aku putus asa, engkau selalu
mentransfer semangatmu. Engkau selalu bilang bahwa aku sangat beruntung dan
harus bersyukur padaNya. Ya, aku sangat beruntung memilikimu Babeh, dan aku
sangat berterima kasih padaNya, telah menitipkanku padamu.
Mimih, bolehkan sejenak kita menembus waktu, kembali
ke masa engkau muda dulu, sebelum uban merajai rambutmu? Bolehkah?
Aku ingin bermanja lagi padamu. Aku ingin tidur
bersamamu, seperti yang selalu kita lakukan. Engkau adalah gudang kasih yang
tak pernah habis, bahkan ketika anakmu ini nakal dan salah. Perhatianmu tiada
duanya. Kelembutan hatimu.. Ah, bahkan aku masih bisa merasakan saat kakiku
luka karena masuk roda sepeda Aa, engkau terlihat lebih sakit dari aku. Tangismu
lebih menyayat dari lukaku. Engkau obati sebisamu. Bahkan engkau tinggalkan pekerjaanmu
demi aku. Kalau puasa ku tiap Ramadhan, maka puasa mu setiap hari. Engkau selalu
menekan keinginanmu demi keinginanku. Engkau selalu menyisihkan rupiah demi
rupiah untukku dan Aa. Engkau adalah penabung yang hebat Mih. Maaf Mih.. bahkan
hingga kini aku masih terus menguras tabunganmu, menguras tenagamu, dan pikiranmu.
Engkau adalah cahaya hidupku. Dan akan tetap begitu, hingga aku bisa menjadi
cahaya untukmu. Ya Rabb, semoga Engkau ijinkan aku untuk bisa menjaga keduanya.
Amiin Allahumma Amiin..
Aa, ayo kita main layangan di sawah depan rumah. Betapa
aku rindu masa itu. Usia kita yang terpaut jauh tidak mengurangi kedekatan
kita. Meskipun masa kecilku tidak selalu denganmu karena engkau menuntut ilmu
disana, kita tetap dekat. Kita tetap punya kenangan itu. Ketika engkau punya
sepeda dan aku dibonceng, ketika engkau memaksaku membeli layang-layang di
warung *ah, kadang2 engkau memang kejam A :p*, ketika engkau menjahiliku sampai
aku menangis, ketika menghadiahiku buku-buku. Ketika sesekali engkau pulang, aku
pasti ingin tidur denganmu, meski engkau membawa serta temanmu. Betapa aku
menyayangimu. Aa adalah kakak terbaik untukku, bukan hanya karena satu-satunya,
tapi karena Aa memang baik.
Teh, pernahkah merasa perkenalan kita sebelumnya
terlalu singkat? Pertemuanmu dengan Aa yang sangat singkat membuatku tidak
begitu mengenalmu. Kita pertama kali bertemu ketika hari peresmian engkau
menjadi kakak iparku. Meskipun sebelumnya sudah pernah ke rumah, tapi kita
belum ditakdirkan bertemu saat itu. Hanya ketabahanmu yang kutahu. Hanya kesabaranmu
yang dapat kulihat. Hanya kesahajaan dan keteguhan prinsipmu yang tergambar. Ya,
Teteh adalah sosok yang terdiri dari elemen-elemen itu. Itu semua membuatku
jatuh cinta padamu. Aku tahu Allah mengirimmu ke keluarga kami untuk menguatkan
kami. Semoga Teteh dan Aa serta si kecil Alya selalu dalam penjagaanNya. I love
you sista J
Ya Rabb, ijinkanlah aku memeluk, mencium, dan
melihat senyum bahagia mereka.. Amiin Allahumma Amiin..


0 komentar:
Posting Komentar