Cinta
Rasanya
begitu akrab di telinga, namun otak belum mampu mencernanya dengan baik.
Ketika
mendengar kata cinta, sedetik kemudian muncul bayangan mereka, sosok yang
mewarnai hidup. Babeh (bapak), Mimih (ibu), dan Aa. Dan sejak dua tahun lalu, bertambah
satu tokoh, Teteh (kakak ipar). Setelahnya hadirlah keponakan yang cantik,
Alya. Maka sempurnalah rasanya hidup ini. Entah do’a apa lagi yang harus
kupanjatkan pada Illahi, ketika kebahagiaan ini rasanya sangat berlebih.
Namun,
hari itu terjadi sesuatu yang berbeda. Perjumpaan yang tidak disengaja,
pembicaraan tanpa makna, semua terekam dengan jelas, dan meninggalkan jejak. Bahkan
ketika aku mencoba menghapusnya secara permanen, tetap tak bisa. Tidak ada yang
menarik sebenarnya. Biasa saja, bahkan sangat sederhana. Entah apa yang
menyihirku saat itu. Aneh. Bahkan sampai saat ini.
Tampan?
Tidak, biasa saja.
Kaya?
Wallahu’alam, aku bukanlah ‘pewawancara’ yang baik tentang itu.
Cerdas?
Ya, aku rasa.
Low
profile? Down to earth? Yes, I think so.
Wah,
ternyata aku tahu banyak tentang orang itu. Ups, sebenarnya tidak. Itu hanya
analisis bodohku setelah terlibat pembicaraan sekian jam dengannya. Hanya sekian
jam, tidak lebih. Aku rasa, karena rasa kagum ku yang berlebihan itulah,
semuanya nampak sempurna, dibalik sosok lemahnya sebagai manusia. Perjumpaan ‘kilat’
itu jugalah salah satu penyebabnya. Semenjak hari itu, aku tidak pernah
melihatnya lagi. *Bahkan kalau boleh, tidak usah :D*. Seperti buku, sekilas
melihat covernya bisa saja suka. Namun dengan membacanya sedikit demi sedikit, akan
nampak kualitas buku sebenarnya.
Ternyata,
proyek ‘hapus permanen’ yang kulakukan malah jadi bumerang. Saat kucoba semakin
keras, semakin parah saja penyakit hati ini. Dan akhirnya, berbekal pepatah
(entah valid atau tidak hehe) aku mencoba dekat dengannya. Berinteraksi. Agar
aku melihat kekurangannya, agar aku menganggapnya biasa seperti yang lainnya. Berharap
penyakit hati ini bisa segera sembuh. Mendapatkan ketenangan semula. Dan setelah
bereksperimen dalam beberapa waktu ini, Alhamdulillah it works!
Kini,
dalam kehidupan sempurnaku, dengan Babeh, Mimih, Aa, Teteh, dan si cantik Alya,
ada satu do’a yang terselip dalam tiap sujudku. Mohon ampun atas kekhilafan
ini, mohon kesembuhan untuk hati ini, supaya tidak jatuh dari cintaNya, cinta
yang Hakiki.


0 komentar:
Posting Komentar